Wednesday, June 15, 2016

Ada Kata yang Sesak pada Halaman 30

Tahukah kau, buku yang kau baca itu belum memiliki judul.
Kau hanya tertarik melihat sampul warna abu.
Warna kesukaanmu, warna langit ketika menyambut hujan.
Dari sekian banyak tumpukan disana, kau dengan mantap mengambilnya.

Buku ini kembali membuka goresan masa lalu. Tiap katanya  di awal menggambarkan lukisan hati. Betapa cinta menjadi hal paling manis.
Ketika kupu-kupu beterbangan menggelitik perutmu tiap waktu. Bunga itu bermekaran, merah merona.

Paragraf demi paragraf membuatmu terhanyut. Bahkan getar itu kembali terasa. Kau mulai masuk ruang waktu. Kau jelajahi setiap lorong memori. 

Sungguh aku masih dapat melihat aku tertawa bahagia bersamamu. Setiap saat jemari kita bersatu. Betapa dekapmu menyisakan semerbak harum ditubuhku. Bahkan bahumu menjadi sandaran ternyaman kala itu.

Kita seperti telah menyatu. Tiap kali kau pergi, bayangku mengikutimu. Pertemuan kita tak pernah menghentikan rinduku. Jemari ini tetaplah milikmu. Genggam lah seutuhnya.

Betapa ini kisah yang amat panjang. Tapi aku terhenti di sebuah ruang yang menyakitkan. Semua yang kulihat kini nampak samar. Perlahan menjauh, tapi langkahku tak mampu lagi mengejar. Aku tersungkur di hamparan ruang kosong yang usang. Sebelum kubuka halaman selanjutnya, lembaran kertas itu telah bernodakan tetes luka lama. 

Di halaman 30 semua terasa menyesakkan. Aku berharap tak mengingatnya. Tapi jiwaku tertahan disana. Masih memandangi bayangmu yang semakin jauh pergi. Genggammu terlepas dari jemari. Rindu kini hilang dikubur pilu. Tak ada lagi aku dan kamu. Akhir halaman 30 hanyalah milikku.




Sunday, May 29, 2016

Langit Bulan Januari

Pada hari itu langit sungguh sendu.
Dibiarkan daun-daun itu menari.
Mengiringi nyanyian angin yang merdu
Disampaikan senandung rindu 
untuk hujan di penghujung januari.

Awan dengan gembira berkumpul.
Sorak sorai mereka beriringan.
Tak ada yang lebih bahagia.
Hanyalah langit bulan januari.

Hujan  selalu memesona.
Langit jatuh cinta melihat rintik yang perlahan.
Cukup dengan gerimis.
Aroma kerinduan semakin menguap.
Setiap tetes didekapnya erat.

Namun mengapa hujan malah mengguyur habis semua.
Diluapkannya begitu deras.
Semakin banyak yang hujan katakan.
Kebersamaannya pada langit akan semakin cepat.
Menuntaskan segala kenikmatan yang tengah basah.

Kepergian hujan  selalu dirindukan langit bulan januari.
Walau genangan airnya akan selalu menyakitkan.








Monday, May 23, 2016

Aku Tidak Lagi Bermimpi

Suatu malam aku bertanya, tentang malam-malam sebelumnya
yang dirahasiakan langit waktu petang.
Tentang senja yang hadir perlahan,
lalu menghilang dengan cepat tanpa beban.

Aku takut ketika malam datang, bukan karena gelapnya.
Sungguh bulan dan bintang sudah cukup setia.
Namun malam terlalu panjang.
Sedang mataku terjaga didekap keresahan.

Malam selalu membuatku tersiksa.
Membuatku lupa seperti apa tidur bagi manusia yang menjelma kalong.
Memejamkan mata seperti merelakan dibawa ke alam bawah sadar yang kelam.
Rasanya aku bermimpi.
Mataku terasa panas,  tapi hujan turun di pelupuk mata.
Namun hujan kali ini tak ada aroma tanah yang menenangkan.
Justru sedih tak berkesudahan.

Tolong malam cepatlah pergi.
Biar kicau burung lekas bangunkanku waktu pagi.
Biar aku tak sesakit ini.

Tersadarku pagi masih lama datang.
Tapi sosokmu telah lama menghilang.
Aku tidak lagi bermimpi.
Kau memang telah pergi.

Sunday, May 22, 2016

Untuk makhluk sempurna, manusia.

Aku ini manusia, makhluk dengan ego yang sering tak berarah.
Yang seringkali mencari pembenaran lewat nalar juga intuisi.
Bisa apa kalau logika dan perasaan sedang adu argumen.
Entah mana yang paling kuat, keduanya mencoba meyakinkan.

Aku manusia, pemilik indera yang sempurna.
Mata ku melihat leluasa.
Mulut bebas saja berkata.
Telinga pun siap mendengar dengan seksama.
Sikapku adalah pembenarnya.

Ya, aku manusia.
Manusia yang katanya punya derajat istimewa.
Bagaimana tidak, akalmu terasah  tinggi.
Jutaan neutron aktif sebagai pengendali.

Tapi aku hanya manusia.
Yang lagi-lagi hanya makhluk tak tahu diri.
Semesta pun janggal menamakanku manusia.
Mungkin karena ulah yang semena bahkan tak peduli.

Untukmu manusia.
Ilmu bolehlah tinggi, namun baiknya tetaplah merunduk seperti padi.
Kau bukan hewan jadi tolong lebih manusiawi.
Terkadang banyak hal perlu melibatkan hati.
Ketahuilah kasih masih dibutuhkan bumi.




Tuesday, May 10, 2016

Harapan dan Kenyataan

Telah lama menanti, tapi cukuplah kini kau sudahi.
Sebanyak apapun kau bertanya, jawaban tetaplah sama.
Bertahan hanya akan menyakitkan.
Menjauh pergi tinggalah pilihan.
Harapan kubur saja dalam ingatan.

Apa yang salah dengan harapan,
Benih-benihnya tumbuh subur dengan pupuk keyakinan.
Disiram doa ketulusan.
Tak disangka hampirlah ia mencapai awan.

Jangan salahkan harapan,
Apalagi kenyataan.
Semua bisa saja tak sesuai keinginan.
Lalu haruskah kulupakan.

Ia terlalu tinggi, jatuh lebih dari sakit.
Sangatlah bebas, apabila dipangkas maka semakin liar ia tumbuh.
Cukuplah kuat, namun tetap saja mati jika kau cabut akarnya.

Tak adakah satu yang kau sanggupi.
Melakukan satu dari ketiganya pun jiwamu lah yang mati.

Tak ada lagi pilihan.
Hanyalah meninggalkannya pergi, biar layu perlahan.

Keikhlasan memupuk harapan.
Sekarang sudikah menghancurkan.
Harapanku, harapanmu, sebut saja harapan kita.
Biarlah gugur dengan sendirinya.
Harapan sirna, kalah dengan kenyataan yang fana.




Saturday, May 7, 2016

Rindu yang bisu

Entah berapa kali putaran jarum jam yang ku abaikan,
menunggunya tepat ketika sang mentari datang menghampiri.
Aku hanya ingin pagi segera datang.
Pada sinar hangatnya, ku sembunyikan malam yang kala itu tengah dilanda kegundahan.
Biar saja cahaya itu bias dan kegelisahan tetap milik malam yang gelap.
Aku telah lama menunggu pagi, karena malam telah sangat letih.
Pada heningnya selalu kusimpan bait rindu sendiri.
Sungguh betapa gundukan rindu itu telah menjadi alunan melodi.
Selamanya tak akan kau dengar.
Nyanyian rindu, mungkin hanya milikku.
Maka tunggulah pagi datang menghapusnya perlahan.
Karena hari akan sangat panjang, cukuplah malam yang menjadi teman.
Karena sejatinya malam akan tetap diam, resah yang kubagi padanya dijawab dengan kerlip bintang.
Tentang rindu, biarkan ia bisu.
Pemiliknya tak akan tahu, cukup saja aku.


Monday, February 8, 2016

Waktu Berlalu

Sehari telah berlalu,
Masih teringat jelas ucapan perpisahan itu.
Bukanlah ucapan yg terdengar mudah ditelinga.
Bukan pula ucapan yg nampak indah dikatakan.
Tapi sepertinya ucapan ini bisa sangat menyesakkan.
Aku ataupun kamu tak ingin memulai untuk mengakhiri.
Sedangkan akhir cerita sudah menunggu untuk dimulai.
Untuk mengakhiri memang akan sangat mudah.
Seketika kata melenyapkan segala, membiarkan hati menerima dengan pasrah.

Seminggu berlalu,
Masih tak jelas bagiku.
Berharap kemarin itu hanya mimpi buruk.
Tapi dalam nyata, hal itu makin membuatku terpuruk.
Aku tak ingin lagi ingat akan akhir cerita kemarin.
Melupakan semua menjadi hal yang paling kuingin.
Satu persatu kenangan, ingin kulenyapkan.
Harusnya memang tak ada lagi dalam ingatan.

Sebulan berlalu,
Aku baru tahu bagaimana semua ini menyiksaku.
Rindu menyelinap dihati.
Sementara cinta telah beranjak pergi.
Ribuan kenangan hadir kembali.
Tapi kosong tak ada yg mengisi.
Ragaku hadir disini, tapi jiwaku kau bawa pergi.
Berkali ku coba merangkai satu persatu kenangan.
Semua begitu indah dalam ingatan.
Berbagai hal telah membuat kita bertahan dan saling menguatkan.
Angan akan masa depan, yg mengatasnamakan kita menjadi tujuan.
Tapi sekarang semua itu bagai mimpi.
Menjadikannya nyata hanya usaha sia-sia.
Takdir tak menghendaki.
Ini bukan jalan kita untuk bahagia.

Satu tahun berlalu,
Mungkin masa itu telah jauh berlalu.
Aku ataupun kamu telah dapat menerima hal yg cukup mendera batin itu.
Membiarkan rasa perlahan menguap ke langit yg mulai kelam.
Kesedihan akan bergumpal dalam awan hitam.
Lalu dibiarkannya rindu jatuh lewat tetesan air hujan yg menggenang.
Dengan sendirinya akan menghilang ketika matahari datang.
Cuaca yg menggambarkan kelabu itu sudah lewat, kini digantikan senyum matahari yg hangat.
Disaat itu kita telah mencoba menerima.
Bahwa di jalan yg berbeda, masing-masing kita telah mencari jalan bahagia.
Meski bahagia itu bukan lagi tentang kita.
Tapi aku tetap mengingatmu sebagai bahagiaku.
Karena bahagia bukan hanya tentang bersatu.


Thursday, February 4, 2016

"Dewasa"

Tidak kah kau sadar, kita hidup bergelut dalam hukum alam.
Tak semudah merumuskan hukum Newton yang menjelaskan tentang adanya aksi-reaksi.
Tak juga hanya bicara sejarah yang membahas tentang awal dan akhirnya.
Bukan pula seindah cerita FTV yang selalu happy ending.

Banyak hal yang tak terduga.
Beberapa bahkan tak masuk logika.
Bukan rumit, tapi setidaknya butuh banyak pemahaman.
Ya ini kehidupan.

Masa kecil memang penuh canda tawa.
Saat remaja banyak kisah tak terlupa.
Dewasa?

Sampai saat ini, masih sulit mencerna makna dari arti kata yg terdengar sempurna itu.

Pencapaian umur kah?
Pemikiran yang matang?
Atau embel lainnya untuk bisa mendapat sebutan itu?

Nyatanya beberapa orang berani menyatakan dirinya dewasa.
Sebagian lainnya bahkan mencoba untuk bisa disebut dewasa.
Banyak pula yang masih bertanya.

Sepenuhnya pertanyaan itu pun yang mengusik pikiranku.

Karena diumur yang katanya dewasa pun, aku akan selalu dianggap anak kecil oleh keluarga.
Karena dengan pemikiran ku yang cukup matang pun, pendapatkan seolah diragukan untuk diterima.

Lalu apa pembuktian untuk dapat dikatakan dewasa?

Yang ku tau dewasa hanya sebuah kata untuk menutupi banyak kepalsuan.
Kata yang disanjung untuk sekedar pembuktian.

Membahagiakankah jika disebut sudah dewasa?
Mungkin, bagi segelintir orang.
Bagiku, kata itu bagai tuntutan yang harus dilakukan.

Sejujurnya jadi dewasa itu melelahkan.

Ketika menangis adalah penyelesaian yg cukup di waktu kecil, lalu mencoba tersenyum bahagia itu bentuk penyelesaian paling sempurna di tahap yang disebut dewasa.

Jika marah menjadi luapan kekecewaan paling tepat saat kecil, maka berlapang dada menjadi keharusan yang diterima sebagai orang dewasa.

Masa kecil memang terdengar sederhana, seperti yang ku hafal dalam lagu, rasa sayangku terhitung dalam deretan angka yang menyebut urutan keluarga ku satu persatu.
Akan tetapi, saat dewasa kata "sayang" tak semudah aku menyanyikan lagu masa kecilku itu.

Bahkan masalah besar itu bukan lagi karena kamu bertengkar karena berebut mainan dengan temanmu.
Bukan pula hanya karena orangtua yang menolak membelikan mainan kesukaanmu.

Tak perlu penjelasan panjang lebar.

Tapi dengan menjadi dewasa nantinya kamu akan tau bahwa tak hanya masalah mu yang harus dipikirkan.
Mungkin juga terselip nama-nama yang sering kau sebutkan dalam lagu yang waktu kecil sering kau nyanyikan.
Atau mungkin akan bertambah dengan deretan nama-nama orang lain yang kau sayang.

Dan penyelesaian masalahmu tak bisa lagi hanya sekedar tangisan dan amarah.
Sanggupkah?!

Saat kecil, mungkin keinginan menjadi cepat dewasa adalah pengandaian terhebat untuk sebuah harapan. Dimana kamu masih bisa mengarang cerita layaknya dongeng yang pernah ibumu bacakan.
Tapi di masa sebenarnya, dewasa adalah realita yang harus kamu hadapi. Kelak yang mungkin membuatmu menginginkan masa kecilmu kembali.

Sunday, January 31, 2016

Bantu aku menerima

Berkali ku gantungkan harapan, tapi lenyap mengecewakan.
Inginku tapi tak mampu.
Semua jalan seakan tertahan.
Terhenti tak bisa melaju.

Angan ku terlalu jauh melambung tinggi.
Sadar ketika sakit tak dapat dipungkiri.
Tujuan kini tak lagi pasti.
Kosong seperti bangun dari mimpi.

Pertanyaanku tentang esok, berlarian dalam putaran jarum jam.
Ingin ku ikut berlari, tapi tak tau dimana berhenti.

Namun ku telah tiba di ujung jalan itu.
Ini bukanlah tujuan.
Tapi waktu membawaku.
Dimana takdir menghapus harapan.

Bingung akan arah.
Asa terlepas tak tersisa.
Sepenuhnya aku berserah.
Hanya dalam dekapmu, bantu aku menerima.


Monday, December 7, 2015

Pertanyaaan tak terjawab

Dalam hidup, aku ingin berhenti bertanya.
Tapi bisakah jika yang kubutuhkan itu adalah jawaban.

Pertanyaan selalu meresahkan.
Maka jawabanlah pembawa ketenangan.

Sayangnya jawaban tidak selalu memuaskan.
Sedangkan jutaan pertanyaan berlomba ingin dilontarkan.

Seperti ribuan pertanyaan tentang kita.
Terlalu banyak belum bisa terjawab.
Tapi terus beranak-pinak.
Jawaban yg ada hanyalah praduga sementara.
Semuanya bisa saja salah, mungkin pula benar.

Kumpulan pertanyaan itu sebenarnya hanyalah menginginkan satu jawaban, kepastian.

Jangan bertanya lagi, karena yg terjawab pun belum pasti.
Biar saja pertanyaan itu terjawab sendiri.
Saat pertanyaan ini bukan hanya milikku.
Ketika jawaban yg sama juga lah harapmu.
Tak peduli mengecewakan ataukah membahagiakan, baiknya kita tunggu.

Saat ini, cukuplah keyakinan sebagai jawaban.
Yang kelak membawa kita pada kepastian.
Pada saat itu kita harus berhenti bertanya.
Karena itulah saatnya menerima.






Thursday, September 3, 2015

Waktu akan Menjadikan Kita Masa Lalu

Kamu pernah menjadi bagian dariku yang tak pernah menjadi kita.
Tapi kita pernah ada dalam hitungan hari yg tak dijelaskan waktu.
Karena ia begitu saja berputar.
Sampai tersadar kita tak beriring di putaran poros yg sama.

Ini bukan salah waktu.
Hanya saja ini terlalu cepat.

Karena waktu terus berjalan, sementara aku dan kamu diam ditempat.
Pernah mengikuti waktu, tapi rasanya melelahkan.
Disaat itu rasanya ingin sekali melaju perlahan, tapi dibuatnya cepat berlalu.
Ketika itu berharap pula waktu cepat datang, namun dibuatnya menunggu.

Tersibukkan menanti waktu, sementara kau sudah berjalan menjauh.
Waktu itu datang dimana kamu tak di barisan menit yg ku hampiri.
Setiap detiknya aku mulai kehilangan sosokmu.

Kita yg semula diam di tempat sekarang mulai sibuk mengikuti waktu.
Kau sudah melaju ke waktu datangnya masa depan.
Aku, dibiarkan terhenti di masa lalu.

Kini tak ada arti bermain dengan waktu.
Ku rasa waktu juga telah habis untuk kita.

Tapi waktu tak membiarkan semua berlalu.
Karena apa yg dilalui waktu akan menjadi pengiring ingatan akan masa lalu.

Dari sadarku, waktu memang hanya selintas.
Waktu mengenalkanku padamu dan pada akhirnya jg membawa kepergianmu.
Tapi waktu pernah mengizinkan kita merasakan tiap detiknya bersama.
Karena waktu, aku pun bebas mengingatmu di waktu yg ku mau.

Namun, waktu itu pun jg akan berlalu.
Dan kelak kita hanyalah masa lalu. 










Tuesday, August 11, 2015

Hati lah yg mampu memilih cinta

Pada siapa kau jatuhkan pilihanmu?
Pada siapa kau melabuhkan hatimu?

Tentu saja kau bisa memilih, tapi apa daya jika hati telah mengambil alih.
Tak pernah ku tahu bahwa arti hadirmu merubah segalanya.
Mencipta rasa, yg lagi tak mampu menahan raga.

Jika saja cinta itu datang menyapa, seperti apa jawaban yg pantas diucap.
Sedikitpun tak terdengar, namun mengapa dibiarkan nampak.

Kini cinta itu datang tanpa permisi. Bahkan dengan cepat ia mencuri hati.
Lewat apa yg ia lihat, kata tak lagi berarti.
Dan dari apa yg ia rasa, keraguan pun cepat menghilang.

Jangan pernah takut, dengar kata hati. Walau yg kau dengar, tak seindah untaian kata yg keluar dari bibirnya.
Jangan abaikan tentang rasa, meski dilihat mata, tak semuanya nyata.

Dari semua pilihan, hati tak pernah berdusta.
Walau ia pernah jatuh pada orang yg kau anggap paling sempurna.
Tapi hati akan memilih pada siapa cinta itu pantas dimiliki.





Thursday, February 12, 2015

Mungkin

Untuk suatu hal yang belum pasti.
Tentang prasangka yang disangkal hati.

Kelak akan ku tau, meski nampak ragu.
Hanya mampu meraba.
Mata tak terbaca.

Bisikan mencari kepastian.
Tanya akan jadi harapan.
Namun bibir masih menyimpan.
Bergelut dalam kegelisahan.

Ini tentang pengakuan.
Bukan hanya sekedar pertanyaan dan jawaban.
Kejujuran yang dibuat bungkam.
Tak terungkap yang terpendam.

Tetap samar.
Bahkan terlalu sukar.

Tak perlu ungkapkan.

Perlahan kepastian tak dihiraukan.
Karena yang nyata hanyalah pengandaian.

Mungkin.




Tuesday, February 10, 2015

Ini Permainan

Katakan saja ini apa adanya.
Kita sama-sama sedang berpura-pura.
Sadarlah ini tak nyata.

Sepertinya aku atau pun kamu telah lupa.
Bukankah bermain adalah hal yang mengasyikan.
Tentu saja, karena akan selalu ada canda, tawa bahagia di dalamnya.
Itu semua bisa saja membuat kecanduan.

Ya ini permainan.

Bukankah harusnya cukup dengan aku dan juga kamu merasa senang?
Tak perlu khawatir akan berakhir kapan.
Ini bukan tentang siapa yang akan menang.
Bukan pula cerita sedih akan kekalahan.

Baiknya kita nikmati permainan ini.
Cukup bahagia bukan?

Harusnya cukup rasa bahagia.
Tapi terlalu berlebihan jika ini membuat nyaman.
Karena aku hanya takut lupa.
Mengertilah ini permainan.

Bermain akan selalu menyenangkan.
Tentunya sebelum kau bosan.
Atau menemukan permainan yang lebih mengasyikan.

Dalam permainan ini, tak ada aturan.
Bahkan tak ada yang terikat.
Tidak diperkirakan siapa yang terlebih dulu meninggalkan.
Itu semua cepat atau lambat.

Sekali lagi, ini permainan.
Baiknya perasaan tak kau libatkan.

Thursday, October 23, 2014

Hujan Pertanda

Sinar mentari perlahan menghilang.
Hanya ada awan hitam.
Aku masih menunggu pelangi datang.
Namun semua berubah kelam.

Aku tak pernah ingin membenci hujan.
Bahkan setiap rintiknya sangat meneduhkan.
Tapi lagi-lagi hujan menghadirkan kesedihan.
Atau memang ini pertanda dari semua kegelisahan.

Di kala rintik itu, aku melihat tawamu.
Nampak tak seperti dulu.
Apakah hujan telah membasuh lukamu?
Sehingga kau tampak sebahagia itu.




Thursday, October 16, 2014

Rindu Menggebu

Aku rindu.
Ketika tatap mata kita saling bertemu.
Saat candamu melebur amarahku.
Semua ulahmu yang selalu menjengkelkan itu.

Aku rindu.
Pada aroma tubuhmu yang selalu memberi kenyamanan saatku di dekatmu.
Hangat tubuhmu yang pernah memelukku.
Genggam tanganmu yang mampu menenangkanku.

Tapi saat ini kau menjauh.
Tak dapat ku sentuh.
Lelah mengejar bayangmu, ku terjatuh.
Kehilangan sosokmu, aku rapuh.

Aku sangat rindu.
Sungguh merindukan kebersamaan kita dulu.
Tidakkah kau merindukan itu semua?
Karena ku disini amat tersiksa.

Di batas rindu yang menggebu,
Aku hanya bisa menatapmu.
Memelukmu dan mendekapmu,
Dalam mimpi yang berujung kelabu.

Tuesday, October 14, 2014

Sepi Menghilang

Ketika senja muncul dengan semburat warna jingga.
Terngiang alunan indah suaramu.
Melodi seolah menceritakan hati yang lara.
Sendu nampak pada parasmu.

Apa yang coba kau sembunyikan?
Mengapa tak kau sampaikan?
Kenapa terdiam?
Sengaja kah kau pendam?

Diam mu itu aku tak mengerti.
Waktu silih berganti.
Kau masih saja berdiam diri.
Aku disini terundung sepi.

Aku tak melihat tawa.
Tak juga amarah.
Canda hilang entah kemana.
Hanya tersirat hati yang gundah.

Hati ku terus bertanya.
Namun tak ada kata yang terucap.
Ku menunggu kau mengucap sepatah kata.
Tapi tak pernah terungkap.

Kubiarkan kau diam.
Biarkan rahasia terkubur dalam.
Seperti senja yang perlahan tenggelam.
Berganti malam yang kelam.

















Thursday, October 2, 2014

Hati yang Tak Henti Menanti

Jika bisa memilih, aku ingin membencimu.
Namun aku terlalu ingin mencintaimu.

Aku selalu ingin mengabaikanmu.
Tapi semua hal tentangmu, bahkan tak pernah luput dari pandanganku.

Aku sangat ingin melupakanmu.
Akan tetapi nampaknya semua ingatanku sudah terisi olehmu.

Aku tak pernah bisa berhenti peduli.
Tak pernah bisa berhenti mencintai.
Tak pernah bisa menyudahi.
Namun tak pernah juga bisa memiliki.

Aku cemburu pada ia yang kau cinta begitu dalamnya.
Sehingga tak ada sedikitpun ruang tersisa.
Ingatanmu tentang dia, yang tak pernah ingin kau lupakan.
Membuatku disini kau abaikan.

Aku yang selalu merindukan.
Sementara sedikitpun aku tak pernah ada dalam ingatan.
Mungin aku hanya bentuk pelarian.
Mungkin juga sebagai teman gurauan.

Pada hatimu lah aku terikat.
Namun cinta ku tak pernah kau sambut erat.
Kau yang telah membuatku jatuh terpikat.
Sehingga kini aku pun terjerat.

Setiap kali, kau tak sadari.
Bahwa disini ada hati yang terus menanti.
Sekalipun kau pergi, ia tak pernah berhenti.
Namun kau tak pernah bisa pahami.

Kau masih saja terus mencintai dia yang telah lama pergi.
Bergelut dengan masa lalu yang tak pernah ingin kau sudahi.
Sementara ku disini, menanti.
Menunggumu menyambut hati ini.
Tapi entah kapan kau bisa sadari.
Atau memang tak akan pernah terjadi.




Monday, September 29, 2014

Cinta Sendiri

Aku menanti, menunggu tanpa henti.
Berharap akan ada hati yang mengerti.
Mengapa tak kau buat semuanya pasti?
Apakah ku harus berdiam disini?

Aku disini selalu mencintai.
Namun dia membawa hatimu pergi.
Lalu apa yang tersisa untukku kini?
Meraih keping hati yang tak utuh lagi?

Kamu yang tak pernah mengerti.
Atau aku yang terlalu peduli.
Kamu yang tak pernah bisa mencintai.
Atau aku yang terlalu tak tau diri.

Aku ingin berhenti.
Tapi sesuatu menahanku disini.
Namun bukankah lebih baik aku pergi.
Karena aku takut jatuh semakin dalam lagi.

Ku hanya ingin membuatmu mengerti.
Bahwa tak selamanya aku akan bertahan disini.
Kelak jika ku pergi, jangan kau mencari.
Tak perlu peduli.
Teruskan pengabaian ini.

Untuk hatimu yang tak pernah sempat kumiliki.
Cukup ketahui, ada hati yang tak henti menanti.
Bertahan mencinta sendiri.
Berharap cinta bisa bersemi.
Tapi lagi-lagi itu mungkin hanya ilusi.
Hati itu kini masih berteman sepi.
Menunggu hati yang selalu terkunci.
Biarpun ku pergi, hati ini akan selalu mencintai.
Walau selamanya ini hanya cinta sendiri.




Sunday, September 28, 2014

Cinta yang Ku Cinta



Cinta, kenapa kau selalu datang di saat  yang tak pernah kuduga.
Membuatku tak mampu menahan segala rasa.
Tanpa ku sadar cinta telah bersemayam sejak lama.
Dan aku pun tak kuasa menolak cinta.

Cinta, kenapa kau buat aku mencintainya.
Membiarkan aku terhanyut oleh rasa yang begitu menyiksa.
Haruskah aku mengakuinya.
Bahwa aku mencintainya.

Cinta, apa boleh aku mencintainya.
Mencintai orang yang aku cinta.
Berharap dicinta.
Bukan sekedar mencinta semata.

Cinta, salahkah aku mencintainya.
Memendam rasa yang semakin gila.
Membiarkan hati diselimuti lara.
Salahkah jika cinta itu dia.

Jika iya,  maka apakah itu salah cinta.
Tapi bukankah cinta itu tak pernah salah.
Untuk itu bolehkah aku tetap mencintainya.
Mencintai orang yang aku cinta.
Tak peduli akan benar atau salah.
Karena cinta itu dia.
Aku tak ingin menyerah.
Aku hanya tau, bahwa aku benar mencintainya.