Jika bisa memilih, aku ingin membencimu.
Namun aku terlalu ingin mencintaimu.
Aku selalu ingin mengabaikanmu.
Tapi semua hal tentangmu, bahkan tak pernah luput dari pandanganku.
Aku sangat ingin melupakanmu.
Akan tetapi nampaknya semua ingatanku sudah terisi olehmu.
Aku tak pernah bisa berhenti peduli.
Tak pernah bisa berhenti mencintai.
Tak pernah bisa menyudahi.
Namun tak pernah juga bisa memiliki.
Aku cemburu pada ia yang kau cinta begitu dalamnya.
Sehingga tak ada sedikitpun ruang tersisa.
Ingatanmu tentang dia, yang tak pernah ingin kau lupakan.
Membuatku disini kau abaikan.
Aku yang selalu merindukan.
Sementara sedikitpun aku tak pernah ada dalam ingatan.
Mungin aku hanya bentuk pelarian.
Mungkin juga sebagai teman gurauan.
Pada hatimu lah aku terikat.
Namun cinta ku tak pernah kau sambut erat.
Kau yang telah membuatku jatuh terpikat.
Sehingga kini aku pun terjerat.
Setiap kali, kau tak sadari.
Bahwa disini ada hati yang terus menanti.
Sekalipun kau pergi, ia tak pernah berhenti.
Namun kau tak pernah bisa pahami.
Kau masih saja terus mencintai dia yang telah lama pergi.
Bergelut dengan masa lalu yang tak pernah ingin kau sudahi.
Sementara ku disini, menanti.
Menunggumu menyambut hati ini.
Tapi entah kapan kau bisa sadari.
Atau memang tak akan pernah terjadi.
No comments:
Post a Comment