Thursday, February 4, 2016

"Dewasa"

Tidak kah kau sadar, kita hidup bergelut dalam hukum alam.
Tak semudah merumuskan hukum Newton yang menjelaskan tentang adanya aksi-reaksi.
Tak juga hanya bicara sejarah yang membahas tentang awal dan akhirnya.
Bukan pula seindah cerita FTV yang selalu happy ending.

Banyak hal yang tak terduga.
Beberapa bahkan tak masuk logika.
Bukan rumit, tapi setidaknya butuh banyak pemahaman.
Ya ini kehidupan.

Masa kecil memang penuh canda tawa.
Saat remaja banyak kisah tak terlupa.
Dewasa?

Sampai saat ini, masih sulit mencerna makna dari arti kata yg terdengar sempurna itu.

Pencapaian umur kah?
Pemikiran yang matang?
Atau embel lainnya untuk bisa mendapat sebutan itu?

Nyatanya beberapa orang berani menyatakan dirinya dewasa.
Sebagian lainnya bahkan mencoba untuk bisa disebut dewasa.
Banyak pula yang masih bertanya.

Sepenuhnya pertanyaan itu pun yang mengusik pikiranku.

Karena diumur yang katanya dewasa pun, aku akan selalu dianggap anak kecil oleh keluarga.
Karena dengan pemikiran ku yang cukup matang pun, pendapatkan seolah diragukan untuk diterima.

Lalu apa pembuktian untuk dapat dikatakan dewasa?

Yang ku tau dewasa hanya sebuah kata untuk menutupi banyak kepalsuan.
Kata yang disanjung untuk sekedar pembuktian.

Membahagiakankah jika disebut sudah dewasa?
Mungkin, bagi segelintir orang.
Bagiku, kata itu bagai tuntutan yang harus dilakukan.

Sejujurnya jadi dewasa itu melelahkan.

Ketika menangis adalah penyelesaian yg cukup di waktu kecil, lalu mencoba tersenyum bahagia itu bentuk penyelesaian paling sempurna di tahap yang disebut dewasa.

Jika marah menjadi luapan kekecewaan paling tepat saat kecil, maka berlapang dada menjadi keharusan yang diterima sebagai orang dewasa.

Masa kecil memang terdengar sederhana, seperti yang ku hafal dalam lagu, rasa sayangku terhitung dalam deretan angka yang menyebut urutan keluarga ku satu persatu.
Akan tetapi, saat dewasa kata "sayang" tak semudah aku menyanyikan lagu masa kecilku itu.

Bahkan masalah besar itu bukan lagi karena kamu bertengkar karena berebut mainan dengan temanmu.
Bukan pula hanya karena orangtua yang menolak membelikan mainan kesukaanmu.

Tak perlu penjelasan panjang lebar.

Tapi dengan menjadi dewasa nantinya kamu akan tau bahwa tak hanya masalah mu yang harus dipikirkan.
Mungkin juga terselip nama-nama yang sering kau sebutkan dalam lagu yang waktu kecil sering kau nyanyikan.
Atau mungkin akan bertambah dengan deretan nama-nama orang lain yang kau sayang.

Dan penyelesaian masalahmu tak bisa lagi hanya sekedar tangisan dan amarah.
Sanggupkah?!

Saat kecil, mungkin keinginan menjadi cepat dewasa adalah pengandaian terhebat untuk sebuah harapan. Dimana kamu masih bisa mengarang cerita layaknya dongeng yang pernah ibumu bacakan.
Tapi di masa sebenarnya, dewasa adalah realita yang harus kamu hadapi. Kelak yang mungkin membuatmu menginginkan masa kecilmu kembali.

No comments:

Post a Comment