Sunday, May 22, 2016

Untuk makhluk sempurna, manusia.

Aku ini manusia, makhluk dengan ego yang sering tak berarah.
Yang seringkali mencari pembenaran lewat nalar juga intuisi.
Bisa apa kalau logika dan perasaan sedang adu argumen.
Entah mana yang paling kuat, keduanya mencoba meyakinkan.

Aku manusia, pemilik indera yang sempurna.
Mata ku melihat leluasa.
Mulut bebas saja berkata.
Telinga pun siap mendengar dengan seksama.
Sikapku adalah pembenarnya.

Ya, aku manusia.
Manusia yang katanya punya derajat istimewa.
Bagaimana tidak, akalmu terasah  tinggi.
Jutaan neutron aktif sebagai pengendali.

Tapi aku hanya manusia.
Yang lagi-lagi hanya makhluk tak tahu diri.
Semesta pun janggal menamakanku manusia.
Mungkin karena ulah yang semena bahkan tak peduli.

Untukmu manusia.
Ilmu bolehlah tinggi, namun baiknya tetaplah merunduk seperti padi.
Kau bukan hewan jadi tolong lebih manusiawi.
Terkadang banyak hal perlu melibatkan hati.
Ketahuilah kasih masih dibutuhkan bumi.




Tuesday, May 10, 2016

Harapan dan Kenyataan

Telah lama menanti, tapi cukuplah kini kau sudahi.
Sebanyak apapun kau bertanya, jawaban tetaplah sama.
Bertahan hanya akan menyakitkan.
Menjauh pergi tinggalah pilihan.
Harapan kubur saja dalam ingatan.

Apa yang salah dengan harapan,
Benih-benihnya tumbuh subur dengan pupuk keyakinan.
Disiram doa ketulusan.
Tak disangka hampirlah ia mencapai awan.

Jangan salahkan harapan,
Apalagi kenyataan.
Semua bisa saja tak sesuai keinginan.
Lalu haruskah kulupakan.

Ia terlalu tinggi, jatuh lebih dari sakit.
Sangatlah bebas, apabila dipangkas maka semakin liar ia tumbuh.
Cukuplah kuat, namun tetap saja mati jika kau cabut akarnya.

Tak adakah satu yang kau sanggupi.
Melakukan satu dari ketiganya pun jiwamu lah yang mati.

Tak ada lagi pilihan.
Hanyalah meninggalkannya pergi, biar layu perlahan.

Keikhlasan memupuk harapan.
Sekarang sudikah menghancurkan.
Harapanku, harapanmu, sebut saja harapan kita.
Biarlah gugur dengan sendirinya.
Harapan sirna, kalah dengan kenyataan yang fana.




Saturday, May 7, 2016

Rindu yang bisu

Entah berapa kali putaran jarum jam yang ku abaikan,
menunggunya tepat ketika sang mentari datang menghampiri.
Aku hanya ingin pagi segera datang.
Pada sinar hangatnya, ku sembunyikan malam yang kala itu tengah dilanda kegundahan.
Biar saja cahaya itu bias dan kegelisahan tetap milik malam yang gelap.
Aku telah lama menunggu pagi, karena malam telah sangat letih.
Pada heningnya selalu kusimpan bait rindu sendiri.
Sungguh betapa gundukan rindu itu telah menjadi alunan melodi.
Selamanya tak akan kau dengar.
Nyanyian rindu, mungkin hanya milikku.
Maka tunggulah pagi datang menghapusnya perlahan.
Karena hari akan sangat panjang, cukuplah malam yang menjadi teman.
Karena sejatinya malam akan tetap diam, resah yang kubagi padanya dijawab dengan kerlip bintang.
Tentang rindu, biarkan ia bisu.
Pemiliknya tak akan tahu, cukup saja aku.


Monday, February 8, 2016

Waktu Berlalu

Sehari telah berlalu,
Masih teringat jelas ucapan perpisahan itu.
Bukanlah ucapan yg terdengar mudah ditelinga.
Bukan pula ucapan yg nampak indah dikatakan.
Tapi sepertinya ucapan ini bisa sangat menyesakkan.
Aku ataupun kamu tak ingin memulai untuk mengakhiri.
Sedangkan akhir cerita sudah menunggu untuk dimulai.
Untuk mengakhiri memang akan sangat mudah.
Seketika kata melenyapkan segala, membiarkan hati menerima dengan pasrah.

Seminggu berlalu,
Masih tak jelas bagiku.
Berharap kemarin itu hanya mimpi buruk.
Tapi dalam nyata, hal itu makin membuatku terpuruk.
Aku tak ingin lagi ingat akan akhir cerita kemarin.
Melupakan semua menjadi hal yang paling kuingin.
Satu persatu kenangan, ingin kulenyapkan.
Harusnya memang tak ada lagi dalam ingatan.

Sebulan berlalu,
Aku baru tahu bagaimana semua ini menyiksaku.
Rindu menyelinap dihati.
Sementara cinta telah beranjak pergi.
Ribuan kenangan hadir kembali.
Tapi kosong tak ada yg mengisi.
Ragaku hadir disini, tapi jiwaku kau bawa pergi.
Berkali ku coba merangkai satu persatu kenangan.
Semua begitu indah dalam ingatan.
Berbagai hal telah membuat kita bertahan dan saling menguatkan.
Angan akan masa depan, yg mengatasnamakan kita menjadi tujuan.
Tapi sekarang semua itu bagai mimpi.
Menjadikannya nyata hanya usaha sia-sia.
Takdir tak menghendaki.
Ini bukan jalan kita untuk bahagia.

Satu tahun berlalu,
Mungkin masa itu telah jauh berlalu.
Aku ataupun kamu telah dapat menerima hal yg cukup mendera batin itu.
Membiarkan rasa perlahan menguap ke langit yg mulai kelam.
Kesedihan akan bergumpal dalam awan hitam.
Lalu dibiarkannya rindu jatuh lewat tetesan air hujan yg menggenang.
Dengan sendirinya akan menghilang ketika matahari datang.
Cuaca yg menggambarkan kelabu itu sudah lewat, kini digantikan senyum matahari yg hangat.
Disaat itu kita telah mencoba menerima.
Bahwa di jalan yg berbeda, masing-masing kita telah mencari jalan bahagia.
Meski bahagia itu bukan lagi tentang kita.
Tapi aku tetap mengingatmu sebagai bahagiaku.
Karena bahagia bukan hanya tentang bersatu.


Thursday, February 4, 2016

"Dewasa"

Tidak kah kau sadar, kita hidup bergelut dalam hukum alam.
Tak semudah merumuskan hukum Newton yang menjelaskan tentang adanya aksi-reaksi.
Tak juga hanya bicara sejarah yang membahas tentang awal dan akhirnya.
Bukan pula seindah cerita FTV yang selalu happy ending.

Banyak hal yang tak terduga.
Beberapa bahkan tak masuk logika.
Bukan rumit, tapi setidaknya butuh banyak pemahaman.
Ya ini kehidupan.

Masa kecil memang penuh canda tawa.
Saat remaja banyak kisah tak terlupa.
Dewasa?

Sampai saat ini, masih sulit mencerna makna dari arti kata yg terdengar sempurna itu.

Pencapaian umur kah?
Pemikiran yang matang?
Atau embel lainnya untuk bisa mendapat sebutan itu?

Nyatanya beberapa orang berani menyatakan dirinya dewasa.
Sebagian lainnya bahkan mencoba untuk bisa disebut dewasa.
Banyak pula yang masih bertanya.

Sepenuhnya pertanyaan itu pun yang mengusik pikiranku.

Karena diumur yang katanya dewasa pun, aku akan selalu dianggap anak kecil oleh keluarga.
Karena dengan pemikiran ku yang cukup matang pun, pendapatkan seolah diragukan untuk diterima.

Lalu apa pembuktian untuk dapat dikatakan dewasa?

Yang ku tau dewasa hanya sebuah kata untuk menutupi banyak kepalsuan.
Kata yang disanjung untuk sekedar pembuktian.

Membahagiakankah jika disebut sudah dewasa?
Mungkin, bagi segelintir orang.
Bagiku, kata itu bagai tuntutan yang harus dilakukan.

Sejujurnya jadi dewasa itu melelahkan.

Ketika menangis adalah penyelesaian yg cukup di waktu kecil, lalu mencoba tersenyum bahagia itu bentuk penyelesaian paling sempurna di tahap yang disebut dewasa.

Jika marah menjadi luapan kekecewaan paling tepat saat kecil, maka berlapang dada menjadi keharusan yang diterima sebagai orang dewasa.

Masa kecil memang terdengar sederhana, seperti yang ku hafal dalam lagu, rasa sayangku terhitung dalam deretan angka yang menyebut urutan keluarga ku satu persatu.
Akan tetapi, saat dewasa kata "sayang" tak semudah aku menyanyikan lagu masa kecilku itu.

Bahkan masalah besar itu bukan lagi karena kamu bertengkar karena berebut mainan dengan temanmu.
Bukan pula hanya karena orangtua yang menolak membelikan mainan kesukaanmu.

Tak perlu penjelasan panjang lebar.

Tapi dengan menjadi dewasa nantinya kamu akan tau bahwa tak hanya masalah mu yang harus dipikirkan.
Mungkin juga terselip nama-nama yang sering kau sebutkan dalam lagu yang waktu kecil sering kau nyanyikan.
Atau mungkin akan bertambah dengan deretan nama-nama orang lain yang kau sayang.

Dan penyelesaian masalahmu tak bisa lagi hanya sekedar tangisan dan amarah.
Sanggupkah?!

Saat kecil, mungkin keinginan menjadi cepat dewasa adalah pengandaian terhebat untuk sebuah harapan. Dimana kamu masih bisa mengarang cerita layaknya dongeng yang pernah ibumu bacakan.
Tapi di masa sebenarnya, dewasa adalah realita yang harus kamu hadapi. Kelak yang mungkin membuatmu menginginkan masa kecilmu kembali.

Sunday, January 31, 2016

Bantu aku menerima

Berkali ku gantungkan harapan, tapi lenyap mengecewakan.
Inginku tapi tak mampu.
Semua jalan seakan tertahan.
Terhenti tak bisa melaju.

Angan ku terlalu jauh melambung tinggi.
Sadar ketika sakit tak dapat dipungkiri.
Tujuan kini tak lagi pasti.
Kosong seperti bangun dari mimpi.

Pertanyaanku tentang esok, berlarian dalam putaran jarum jam.
Ingin ku ikut berlari, tapi tak tau dimana berhenti.

Namun ku telah tiba di ujung jalan itu.
Ini bukanlah tujuan.
Tapi waktu membawaku.
Dimana takdir menghapus harapan.

Bingung akan arah.
Asa terlepas tak tersisa.
Sepenuhnya aku berserah.
Hanya dalam dekapmu, bantu aku menerima.


Monday, December 7, 2015

Pertanyaaan tak terjawab

Dalam hidup, aku ingin berhenti bertanya.
Tapi bisakah jika yang kubutuhkan itu adalah jawaban.

Pertanyaan selalu meresahkan.
Maka jawabanlah pembawa ketenangan.

Sayangnya jawaban tidak selalu memuaskan.
Sedangkan jutaan pertanyaan berlomba ingin dilontarkan.

Seperti ribuan pertanyaan tentang kita.
Terlalu banyak belum bisa terjawab.
Tapi terus beranak-pinak.
Jawaban yg ada hanyalah praduga sementara.
Semuanya bisa saja salah, mungkin pula benar.

Kumpulan pertanyaan itu sebenarnya hanyalah menginginkan satu jawaban, kepastian.

Jangan bertanya lagi, karena yg terjawab pun belum pasti.
Biar saja pertanyaan itu terjawab sendiri.
Saat pertanyaan ini bukan hanya milikku.
Ketika jawaban yg sama juga lah harapmu.
Tak peduli mengecewakan ataukah membahagiakan, baiknya kita tunggu.

Saat ini, cukuplah keyakinan sebagai jawaban.
Yang kelak membawa kita pada kepastian.
Pada saat itu kita harus berhenti bertanya.
Karena itulah saatnya menerima.