Entah berapa kali putaran jarum jam yang ku abaikan,
menunggunya tepat ketika sang mentari datang menghampiri.
Aku hanya ingin pagi segera datang.
Pada sinar hangatnya, ku sembunyikan malam yang kala itu tengah dilanda kegundahan.
Biar saja cahaya itu bias dan kegelisahan tetap milik malam yang gelap.
Aku telah lama menunggu pagi, karena malam telah sangat letih.
Pada heningnya selalu kusimpan bait rindu sendiri.
Sungguh betapa gundukan rindu itu telah menjadi alunan melodi.
Selamanya tak akan kau dengar.
Nyanyian rindu, mungkin hanya milikku.
Maka tunggulah pagi datang menghapusnya perlahan.
Karena hari akan sangat panjang, cukuplah malam yang menjadi teman.
Karena sejatinya malam akan tetap diam, resah yang kubagi padanya dijawab dengan kerlip bintang.
Tentang rindu, biarkan ia bisu.
Pemiliknya tak akan tahu, cukup saja aku.
Saturday, May 7, 2016
Monday, February 8, 2016
Waktu Berlalu
Sehari telah berlalu,
Masih teringat jelas ucapan perpisahan itu.
Bukanlah ucapan yg terdengar mudah ditelinga.
Bukan pula ucapan yg nampak indah dikatakan.
Tapi sepertinya ucapan ini bisa sangat menyesakkan.
Aku ataupun kamu tak ingin memulai untuk mengakhiri.
Sedangkan akhir cerita sudah menunggu untuk dimulai.
Untuk mengakhiri memang akan sangat mudah.
Seketika kata melenyapkan segala, membiarkan hati menerima dengan pasrah.
Seminggu berlalu,
Masih tak jelas bagiku.
Berharap kemarin itu hanya mimpi buruk.
Tapi dalam nyata, hal itu makin membuatku terpuruk.
Aku tak ingin lagi ingat akan akhir cerita kemarin.
Melupakan semua menjadi hal yang paling kuingin.
Satu persatu kenangan, ingin kulenyapkan.
Harusnya memang tak ada lagi dalam ingatan.
Sebulan berlalu,
Aku baru tahu bagaimana semua ini menyiksaku.
Rindu menyelinap dihati.
Sementara cinta telah beranjak pergi.
Ribuan kenangan hadir kembali.
Tapi kosong tak ada yg mengisi.
Ragaku hadir disini, tapi jiwaku kau bawa pergi.
Berkali ku coba merangkai satu persatu kenangan.
Semua begitu indah dalam ingatan.
Berbagai hal telah membuat kita bertahan dan saling menguatkan.
Angan akan masa depan, yg mengatasnamakan kita menjadi tujuan.
Tapi sekarang semua itu bagai mimpi.
Menjadikannya nyata hanya usaha sia-sia.
Takdir tak menghendaki.
Ini bukan jalan kita untuk bahagia.
Satu tahun berlalu,
Mungkin masa itu telah jauh berlalu.
Aku ataupun kamu telah dapat menerima hal yg cukup mendera batin itu.
Membiarkan rasa perlahan menguap ke langit yg mulai kelam.
Kesedihan akan bergumpal dalam awan hitam.
Lalu dibiarkannya rindu jatuh lewat tetesan air hujan yg menggenang.
Dengan sendirinya akan menghilang ketika matahari datang.
Cuaca yg menggambarkan kelabu itu sudah lewat, kini digantikan senyum matahari yg hangat.
Disaat itu kita telah mencoba menerima.
Bahwa di jalan yg berbeda, masing-masing kita telah mencari jalan bahagia.
Meski bahagia itu bukan lagi tentang kita.
Tapi aku tetap mengingatmu sebagai bahagiaku.
Karena bahagia bukan hanya tentang bersatu.
Masih teringat jelas ucapan perpisahan itu.
Bukanlah ucapan yg terdengar mudah ditelinga.
Bukan pula ucapan yg nampak indah dikatakan.
Tapi sepertinya ucapan ini bisa sangat menyesakkan.
Aku ataupun kamu tak ingin memulai untuk mengakhiri.
Sedangkan akhir cerita sudah menunggu untuk dimulai.
Untuk mengakhiri memang akan sangat mudah.
Seketika kata melenyapkan segala, membiarkan hati menerima dengan pasrah.
Seminggu berlalu,
Masih tak jelas bagiku.
Berharap kemarin itu hanya mimpi buruk.
Tapi dalam nyata, hal itu makin membuatku terpuruk.
Aku tak ingin lagi ingat akan akhir cerita kemarin.
Melupakan semua menjadi hal yang paling kuingin.
Satu persatu kenangan, ingin kulenyapkan.
Harusnya memang tak ada lagi dalam ingatan.
Sebulan berlalu,
Aku baru tahu bagaimana semua ini menyiksaku.
Rindu menyelinap dihati.
Sementara cinta telah beranjak pergi.
Ribuan kenangan hadir kembali.
Tapi kosong tak ada yg mengisi.
Ragaku hadir disini, tapi jiwaku kau bawa pergi.
Berkali ku coba merangkai satu persatu kenangan.
Semua begitu indah dalam ingatan.
Berbagai hal telah membuat kita bertahan dan saling menguatkan.
Angan akan masa depan, yg mengatasnamakan kita menjadi tujuan.
Tapi sekarang semua itu bagai mimpi.
Menjadikannya nyata hanya usaha sia-sia.
Takdir tak menghendaki.
Ini bukan jalan kita untuk bahagia.
Satu tahun berlalu,
Mungkin masa itu telah jauh berlalu.
Aku ataupun kamu telah dapat menerima hal yg cukup mendera batin itu.
Membiarkan rasa perlahan menguap ke langit yg mulai kelam.
Kesedihan akan bergumpal dalam awan hitam.
Lalu dibiarkannya rindu jatuh lewat tetesan air hujan yg menggenang.
Dengan sendirinya akan menghilang ketika matahari datang.
Cuaca yg menggambarkan kelabu itu sudah lewat, kini digantikan senyum matahari yg hangat.
Disaat itu kita telah mencoba menerima.
Bahwa di jalan yg berbeda, masing-masing kita telah mencari jalan bahagia.
Meski bahagia itu bukan lagi tentang kita.
Tapi aku tetap mengingatmu sebagai bahagiaku.
Karena bahagia bukan hanya tentang bersatu.
Thursday, February 4, 2016
"Dewasa"
Tidak kah kau sadar, kita hidup bergelut dalam hukum alam.
Tak semudah merumuskan hukum Newton yang menjelaskan tentang adanya aksi-reaksi.
Tak juga hanya bicara sejarah yang membahas tentang awal dan akhirnya.
Bukan pula seindah cerita FTV yang selalu happy ending.
Banyak hal yang tak terduga.
Beberapa bahkan tak masuk logika.
Bukan rumit, tapi setidaknya butuh banyak pemahaman.
Ya ini kehidupan.
Masa kecil memang penuh canda tawa.
Saat remaja banyak kisah tak terlupa.
Dewasa?
Sampai saat ini, masih sulit mencerna makna dari arti kata yg terdengar sempurna itu.
Pencapaian umur kah?
Pemikiran yang matang?
Atau embel lainnya untuk bisa mendapat sebutan itu?
Nyatanya beberapa orang berani menyatakan dirinya dewasa.
Sebagian lainnya bahkan mencoba untuk bisa disebut dewasa.
Banyak pula yang masih bertanya.
Sepenuhnya pertanyaan itu pun yang mengusik pikiranku.
Karena diumur yang katanya dewasa pun, aku akan selalu dianggap anak kecil oleh keluarga.
Karena dengan pemikiran ku yang cukup matang pun, pendapatkan seolah diragukan untuk diterima.
Lalu apa pembuktian untuk dapat dikatakan dewasa?
Yang ku tau dewasa hanya sebuah kata untuk menutupi banyak kepalsuan.
Kata yang disanjung untuk sekedar pembuktian.
Membahagiakankah jika disebut sudah dewasa?
Mungkin, bagi segelintir orang.
Bagiku, kata itu bagai tuntutan yang harus dilakukan.
Sejujurnya jadi dewasa itu melelahkan.
Ketika menangis adalah penyelesaian yg cukup di waktu kecil, lalu mencoba tersenyum bahagia itu bentuk penyelesaian paling sempurna di tahap yang disebut dewasa.
Jika marah menjadi luapan kekecewaan paling tepat saat kecil, maka berlapang dada menjadi keharusan yang diterima sebagai orang dewasa.
Masa kecil memang terdengar sederhana, seperti yang ku hafal dalam lagu, rasa sayangku terhitung dalam deretan angka yang menyebut urutan keluarga ku satu persatu.
Akan tetapi, saat dewasa kata "sayang" tak semudah aku menyanyikan lagu masa kecilku itu.
Bahkan masalah besar itu bukan lagi karena kamu bertengkar karena berebut mainan dengan temanmu.
Bukan pula hanya karena orangtua yang menolak membelikan mainan kesukaanmu.
Tak perlu penjelasan panjang lebar.
Tapi dengan menjadi dewasa nantinya kamu akan tau bahwa tak hanya masalah mu yang harus dipikirkan.
Mungkin juga terselip nama-nama yang sering kau sebutkan dalam lagu yang waktu kecil sering kau nyanyikan.
Atau mungkin akan bertambah dengan deretan nama-nama orang lain yang kau sayang.
Dan penyelesaian masalahmu tak bisa lagi hanya sekedar tangisan dan amarah.
Sanggupkah?!
Saat kecil, mungkin keinginan menjadi cepat dewasa adalah pengandaian terhebat untuk sebuah harapan. Dimana kamu masih bisa mengarang cerita layaknya dongeng yang pernah ibumu bacakan.
Tapi di masa sebenarnya, dewasa adalah realita yang harus kamu hadapi. Kelak yang mungkin membuatmu menginginkan masa kecilmu kembali.
Tak semudah merumuskan hukum Newton yang menjelaskan tentang adanya aksi-reaksi.
Tak juga hanya bicara sejarah yang membahas tentang awal dan akhirnya.
Bukan pula seindah cerita FTV yang selalu happy ending.
Banyak hal yang tak terduga.
Beberapa bahkan tak masuk logika.
Bukan rumit, tapi setidaknya butuh banyak pemahaman.
Ya ini kehidupan.
Masa kecil memang penuh canda tawa.
Saat remaja banyak kisah tak terlupa.
Dewasa?
Sampai saat ini, masih sulit mencerna makna dari arti kata yg terdengar sempurna itu.
Pencapaian umur kah?
Pemikiran yang matang?
Atau embel lainnya untuk bisa mendapat sebutan itu?
Nyatanya beberapa orang berani menyatakan dirinya dewasa.
Sebagian lainnya bahkan mencoba untuk bisa disebut dewasa.
Banyak pula yang masih bertanya.
Sepenuhnya pertanyaan itu pun yang mengusik pikiranku.
Karena diumur yang katanya dewasa pun, aku akan selalu dianggap anak kecil oleh keluarga.
Karena dengan pemikiran ku yang cukup matang pun, pendapatkan seolah diragukan untuk diterima.
Lalu apa pembuktian untuk dapat dikatakan dewasa?
Yang ku tau dewasa hanya sebuah kata untuk menutupi banyak kepalsuan.
Kata yang disanjung untuk sekedar pembuktian.
Membahagiakankah jika disebut sudah dewasa?
Mungkin, bagi segelintir orang.
Bagiku, kata itu bagai tuntutan yang harus dilakukan.
Sejujurnya jadi dewasa itu melelahkan.
Ketika menangis adalah penyelesaian yg cukup di waktu kecil, lalu mencoba tersenyum bahagia itu bentuk penyelesaian paling sempurna di tahap yang disebut dewasa.
Jika marah menjadi luapan kekecewaan paling tepat saat kecil, maka berlapang dada menjadi keharusan yang diterima sebagai orang dewasa.
Masa kecil memang terdengar sederhana, seperti yang ku hafal dalam lagu, rasa sayangku terhitung dalam deretan angka yang menyebut urutan keluarga ku satu persatu.
Akan tetapi, saat dewasa kata "sayang" tak semudah aku menyanyikan lagu masa kecilku itu.
Bahkan masalah besar itu bukan lagi karena kamu bertengkar karena berebut mainan dengan temanmu.
Bukan pula hanya karena orangtua yang menolak membelikan mainan kesukaanmu.
Tak perlu penjelasan panjang lebar.
Tapi dengan menjadi dewasa nantinya kamu akan tau bahwa tak hanya masalah mu yang harus dipikirkan.
Mungkin juga terselip nama-nama yang sering kau sebutkan dalam lagu yang waktu kecil sering kau nyanyikan.
Atau mungkin akan bertambah dengan deretan nama-nama orang lain yang kau sayang.
Dan penyelesaian masalahmu tak bisa lagi hanya sekedar tangisan dan amarah.
Sanggupkah?!
Saat kecil, mungkin keinginan menjadi cepat dewasa adalah pengandaian terhebat untuk sebuah harapan. Dimana kamu masih bisa mengarang cerita layaknya dongeng yang pernah ibumu bacakan.
Tapi di masa sebenarnya, dewasa adalah realita yang harus kamu hadapi. Kelak yang mungkin membuatmu menginginkan masa kecilmu kembali.
Sunday, January 31, 2016
Bantu aku menerima
Berkali ku gantungkan harapan, tapi lenyap mengecewakan.
Inginku tapi tak mampu.
Semua jalan seakan tertahan.
Terhenti tak bisa melaju.
Angan ku terlalu jauh melambung tinggi.
Sadar ketika sakit tak dapat dipungkiri.
Tujuan kini tak lagi pasti.
Kosong seperti bangun dari mimpi.
Pertanyaanku tentang esok, berlarian dalam putaran jarum jam.
Ingin ku ikut berlari, tapi tak tau dimana berhenti.
Namun ku telah tiba di ujung jalan itu.
Ini bukanlah tujuan.
Tapi waktu membawaku.
Dimana takdir menghapus harapan.
Bingung akan arah.
Asa terlepas tak tersisa.
Sepenuhnya aku berserah.
Hanya dalam dekapmu, bantu aku menerima.
Inginku tapi tak mampu.
Semua jalan seakan tertahan.
Terhenti tak bisa melaju.
Angan ku terlalu jauh melambung tinggi.
Sadar ketika sakit tak dapat dipungkiri.
Tujuan kini tak lagi pasti.
Kosong seperti bangun dari mimpi.
Pertanyaanku tentang esok, berlarian dalam putaran jarum jam.
Ingin ku ikut berlari, tapi tak tau dimana berhenti.
Namun ku telah tiba di ujung jalan itu.
Ini bukanlah tujuan.
Tapi waktu membawaku.
Dimana takdir menghapus harapan.
Bingung akan arah.
Asa terlepas tak tersisa.
Sepenuhnya aku berserah.
Hanya dalam dekapmu, bantu aku menerima.
Monday, December 7, 2015
Pertanyaaan tak terjawab
Dalam hidup, aku ingin berhenti bertanya.
Tapi bisakah jika yang kubutuhkan itu adalah jawaban.
Pertanyaan selalu meresahkan.
Maka jawabanlah pembawa ketenangan.
Sayangnya jawaban tidak selalu memuaskan.
Sedangkan jutaan pertanyaan berlomba ingin dilontarkan.
Seperti ribuan pertanyaan tentang kita.
Terlalu banyak belum bisa terjawab.
Tapi terus beranak-pinak.
Jawaban yg ada hanyalah praduga sementara.
Semuanya bisa saja salah, mungkin pula benar.
Kumpulan pertanyaan itu sebenarnya hanyalah menginginkan satu jawaban, kepastian.
Jangan bertanya lagi, karena yg terjawab pun belum pasti.
Biar saja pertanyaan itu terjawab sendiri.
Saat pertanyaan ini bukan hanya milikku.
Ketika jawaban yg sama juga lah harapmu.
Tak peduli mengecewakan ataukah membahagiakan, baiknya kita tunggu.
Saat ini, cukuplah keyakinan sebagai jawaban.
Yang kelak membawa kita pada kepastian.
Pada saat itu kita harus berhenti bertanya.
Pada saat itu kita harus berhenti bertanya.
Karena itulah saatnya menerima.
Thursday, September 3, 2015
Waktu akan Menjadikan Kita Masa Lalu
Kamu pernah menjadi bagian dariku yang tak pernah menjadi kita.
Tapi kita pernah ada dalam hitungan hari yg tak dijelaskan waktu.
Karena ia begitu saja berputar.
Sampai tersadar kita tak beriring di putaran poros yg sama.
Ini bukan salah waktu.
Hanya saja ini terlalu cepat.
Karena waktu terus berjalan, sementara aku dan kamu diam ditempat.
Pernah mengikuti waktu, tapi rasanya melelahkan.
Disaat itu rasanya ingin sekali melaju perlahan, tapi dibuatnya cepat berlalu.
Ketika itu berharap pula waktu cepat datang, namun dibuatnya menunggu.
Tersibukkan menanti waktu, sementara kau sudah berjalan menjauh.
Waktu itu datang dimana kamu tak di barisan menit yg ku hampiri.
Setiap detiknya aku mulai kehilangan sosokmu.
Kita yg semula diam di tempat sekarang mulai sibuk mengikuti waktu.
Kau sudah melaju ke waktu datangnya masa depan.
Aku, dibiarkan terhenti di masa lalu.
Kini tak ada arti bermain dengan waktu.
Ku rasa waktu juga telah habis untuk kita.
Tapi waktu tak membiarkan semua berlalu.
Karena apa yg dilalui waktu akan menjadi pengiring ingatan akan masa lalu.
Dari sadarku, waktu memang hanya selintas.
Waktu mengenalkanku padamu dan pada akhirnya jg membawa kepergianmu.
Tapi waktu pernah mengizinkan kita merasakan tiap detiknya bersama.
Karena waktu, aku pun bebas mengingatmu di waktu yg ku mau.
Namun, waktu itu pun jg akan berlalu.
Dan kelak kita hanyalah masa lalu.
Tuesday, August 11, 2015
Hati lah yg mampu memilih cinta
Pada siapa kau jatuhkan pilihanmu?
Pada siapa kau melabuhkan hatimu?
Tentu saja kau bisa memilih, tapi apa daya jika hati telah mengambil alih.
Tak pernah ku tahu bahwa arti hadirmu merubah segalanya.
Mencipta rasa, yg lagi tak mampu menahan raga.
Jika saja cinta itu datang menyapa, seperti apa jawaban yg pantas diucap.
Sedikitpun tak terdengar, namun mengapa dibiarkan nampak.
Kini cinta itu datang tanpa permisi. Bahkan dengan cepat ia mencuri hati.
Lewat apa yg ia lihat, kata tak lagi berarti.
Dan dari apa yg ia rasa, keraguan pun cepat menghilang.
Jangan pernah takut, dengar kata hati. Walau yg kau dengar, tak seindah untaian kata yg keluar dari bibirnya.
Jangan abaikan tentang rasa, meski dilihat mata, tak semuanya nyata.
Dari semua pilihan, hati tak pernah berdusta.
Walau ia pernah jatuh pada orang yg kau anggap paling sempurna.
Tapi hati akan memilih pada siapa cinta itu pantas dimiliki.
Pada siapa kau melabuhkan hatimu?
Tentu saja kau bisa memilih, tapi apa daya jika hati telah mengambil alih.
Tak pernah ku tahu bahwa arti hadirmu merubah segalanya.
Mencipta rasa, yg lagi tak mampu menahan raga.
Jika saja cinta itu datang menyapa, seperti apa jawaban yg pantas diucap.
Sedikitpun tak terdengar, namun mengapa dibiarkan nampak.
Kini cinta itu datang tanpa permisi. Bahkan dengan cepat ia mencuri hati.
Lewat apa yg ia lihat, kata tak lagi berarti.
Dan dari apa yg ia rasa, keraguan pun cepat menghilang.
Jangan pernah takut, dengar kata hati. Walau yg kau dengar, tak seindah untaian kata yg keluar dari bibirnya.
Jangan abaikan tentang rasa, meski dilihat mata, tak semuanya nyata.
Dari semua pilihan, hati tak pernah berdusta.
Walau ia pernah jatuh pada orang yg kau anggap paling sempurna.
Tapi hati akan memilih pada siapa cinta itu pantas dimiliki.
Subscribe to:
Posts (Atom)